Today is 15th November and the end test is about a couple weeks left. 2 weeks isnt that long, fyi. I dont know, is time really goes fast or time pushes me into the future faster than normal? oh, i think the first statement is mostly right. Lately, i feel like a day isnt 24 hours again (or it is, but the second hand on the clock turns fast?).

After the end test, i'll have some intensive courses for UN and SBMPTN soon. Strategy must be ready for that fight and alhamdulillah i've got some (not really) great strategy. Sometimes, i wonder that i'll be the first student from my high school to continue my study in ITB. It would be great, right?

But, there is something depressing me. I wont (i mean not as often as when we're in high school) go out in saturday night with my best friends anymore. I will miss the moment when we went to house of sampoerna until (almost) midnight, how we spent 20k at Brum Cafe for a plate of icy pancake and a cup of hot choco, going to cinemas, or just going around the town.

I love my friends in IPA 2 (Expost), they are crazy and have many ways to make a whole class laughing! They are great, funny, kind, care, and great great great! I remember how i hated this class in the first week of school because there were my ex and his fan (at that time), FYI! I thought it would be worst class i ever entered. but, i was wrong. I even having great friends in this cool class (though he is still there). but no, i didnt focus on talking about my exboyf (and his fan), but it told you how life is totally fair when you feel it's not.

i am just not ready yet for the graduation which is less than 5 months:'(


Look at our faces! lol


from left to right : Onny, Adam







"walaupun mereka hanya menyodorkanku siluetmu, aku pasti tau kalau itu kau."

Rasuk.

Aku jatuh cinta pada seorang lelaki. Dekat, tapi terasa jauh. Aku hanya bisa menikmati matanya. Dan karena mata itu, aku jatuh cinta. Tidak, matanya tidak indah--kata temanku. Warna matanya juga bukan warna favoritku--biru. Aku tidak jatuh cinta pada bentuk matanya ataupun warnanya. Tetapi, pandangannya. Aku selalu mati gaya karena pandangan. Sesuatu yang menurut orang lain, ah, biasa saja! Tetapi, bagiku, pandangannya dapat membuatku berguling girang sendirian, sementara ia bersembunyi dibalik kabut. I love the way he stares at me. Ada rasa yang menggelitik perutku saat ia menatapku. Ada esensi yang membuat cita rasa tatapannya menjadi berbeda.

Baik, aku juga mencintai senyumnya (maaf aku berbohong, padahal aku bilang aku hanya mencintai matanya). Senyum yang sepertinya dibumbui rasa malu, tetapi lucu. Manis. Senyum yang mungkin hanya aku dan dia yang tau. Ruang beserta makhluk-makhluk lain terasa luntur bersama waktu, menanggalkan kita yang bertukar senyum.... lalu kembali lagi ke dunia nyata, dimana tiada seorang pun menyadari hal itu.

ZIPPPP!

that feelings when...

you will never know how i feel when he gives me his prettiest smile. oh, thanks for charges my mood up! 

those feelings when i catch his sight when he stares at me (accidentally or not). After counting the times, i realized that we stare each other eyes-to-eyes in at least 20 secs. haha, actually i dont really count it:))

"jika aku mengatakan bahwa aku biasa saja jika berada didekatmu, itu bohong."
tentu saja seluruh tubuhku bergetar hebat saat mendengar nama itu--namamu. sel-sel otakku berlompatan menghasilkan lompatan listrik kecil yang merambat hingga seluruh tubuhku. gila. berada beberapa sentimeter dari permukaan kulitmu saja membuat jantungku memompa darah lebih cepat. mataku kaku. tidak berani menoleh, apalagi menegur. maaf, aku tidak bermaksud begitu. aku hanya terlalu gugup.

aku tidak pernah percaya bahwa aku akan se-gugup ini berada didekatmu, walaupun aku terlihat... biasa saja.

bayanganmu hilang seiring lagu ini berakhir, lalu muncul lagi di lagu yang lain.

what are you—i mean who are you? why are you walking through my songs?

Firasat-

Hari ini matahari bersinar lebih cerah dari biasanya, lebih sejuk dari biasanya, dan tampaknya lebih ceria dari biasanya. Entah mengapa, rerumputan sepertinya menari sesuai tempo lagu yang kudengarkan melalui iPodku. Angin semilir menyapu rambut yang dikuncir rapi oleh mama.

Tampak seorang pria dengan kaos Polo-nya yang kelabu. Rambutnya yang sudah lumayan gondrong ikut tertiup angin. Ia duduk membelakangiku. Sepertinya aku kenal.. tapi siapa?

Lelaki itu menoleh. Tidak, ia tidak tersenyum. Ia juga tidak tampak seperti guru fisika yang sedang darah tinggi. Lelaki itu sedang bersedih, sepertinya. Mata itu seperti menyuruhku untuk mendatanginya... dan sepertinya aku ingat tatapan ini. Tatapan yang aku harapkan sejak dulu, tatapan tanpa acuh. Seakan-akan ia menginginkanku--tatapanku. Kaki yang semula terpaku, akhirnya melangkah tanpa komando. Aku menghampirinya? aku menghampirinya!

Kemudian, aku duduk di sisi kanannya. Aku harap ia menoleh lalu tersenyum. Alih-alih menoleh, bahkan sepertinya ia tidak menyadari kedatanganku. Kami terdiam selama beberapa saat, tidak ada gerakan tangan sekalipun. Ia memulai gerakan duluan, dengan membuang muka ke sisi kirinya. Aku menoleh, memperhatikan reaksi terhadap diam. Aku bingung, di otakku berputar-putar banyak pertanyaan. Aku harus berani mengatakan sesuatu, apapun!

"Ada apa denganmu?," aku akhirnya memberanikan diri. "kau tampak..." belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, tiba-tiba ia menangis.

Tangisan yang lebih dalam dari yang pernah aku tau tentang lelaki. Aku tau bahwa lelaki cenderung menyembunyikan perasaannya walaupun ia tak benar-benar bermaksud menyembunyikannya. Aku bingung, tapi tidak panik. Seakan kubiarkan saja tangisan itu mengalir di pipinya. Aku seharusnya tahu, tapi apa?

"Apa yang terjadi?" aku berbicara lagi, memegang pundaknya.
Dia terus saja menangis, tanpa suara. Aku juga tidak yakin apakah dia benar-benar menangis atau sekedar meneteskan air mata.

------------------

"BHAAAAA!!!! Bangun weyyy!" aku merasakan tubuhku diguncang oleh beberapa tangan--mungkin banyak orang.

Tubuhku terasa sangat lelah dan malas. Darah tinggiku mungkin saja muncul ditengah keributan orang-orang ini, pikirku. Setelah beberapa saat, aku tidak merasakan apa-apa. Oh, mungkin mereka sudah pergi, syukurlah. Mataku masih menutup, namun aku sudah sadar.

e - to be continued..