Keresahan Setelah Subuh

astaghfirullah,
               astaghfirullah,
                         astaghfirullah.

ampuni segala prasangka buruk hambaMu ini,
hamba hanyalah sekumpulan pemikiran-pemikiran tentang masa yang akan datang dan keresahan-keresahan masa yang sudah lalu.

tambahkan sabar pada segala keluhan,
luruskan segala kemelut,
hindarkan dari segala prasangka buruk,
ya Allah.

dimana kepantasan hambaMu ini meminta sebanyak itu?
ya Allah, sesungguhnya Engkaulah tempat pulangnya segala keluh dan air mata,
segala bahagia dan tawa.

entah sebanyak apa lagi istighfar yang ingin hamba ucapkan tatkala keresahan menguasai dada,
dengan segala ketidakteraturan emosi dan pikiran,
entah ketenangan apa lagi yang mampu menyembuhkan selain menyebut namaMu.

ya Allah, kelilingi hamba dengan orang-orang yang mau mengerti bahwa hati ini bisa lelah dan butuh waktu untuk mengobati.

dan bantu hamba untuk melakukan hal yang sama.

senja itu.

aku masih ingat
bagaimana sinar keemasan
dari sang maha terang,
senja itu,
menyirami seluruh parasmu.

cahaya itu
lumat-lumat menjelajahi wajahmu,
perlahan,

dari dahi hingga dagu




dari yakin hingga ragu.



Bandung dan Hujan

Sore itu, hujan turun.
Bandung begitu dingin.
Sedingin hatinya,
Sekaku pendiriannya.
Kenangan menggigil.

Ini akan selesai, batinku.
Mentari akan segera muncul. Pasti.

Lalu,
hujan turun, lebat.
Seperti rindu-rindu yang kusimpan
pada punggungnya
yang kupikir akan mereda,
seperti wanita yang sesenggukan.

Hujan semakin marak,
seperti rindu yang tak lagi mampu dibungkam senyum.


aku adalah kepingan munafik.

semua muka ini; bahagia, melupakan, tertawa, hingga menari di sela-sela hujan,
sia-sia.

rasa ini, yang kubangunkan dinding tinggi-tinggi,
kutekan dengan bebatuan sebesar gunung,
sialnya, terus membelah diri, menggunung,
lalu bertransformasi jadi air.

menenggelamkanku,
dari leher, naik naik,
tiba-tiba pada mulut.
aku bungkam, namamu masih terucap,
meski hanya gumam-gumam, naik naik,
tibalah pada hidung,
aku tidak lagi bisa bernafas, namun
namamu masih terikat pada oksigen-oksigen yang kuhirup
sedetik sebelum air-air ini merendamnya, naik naik,
pada telinga.
aku tidak mendengar, namun suaramu mendengung
memekik ingin pergi. ah!
naik-naik,
air berhenti pada mata.
aku buta, dingin, dan gelap.


naik-naik.
air meninggi, tinggi, tinggi sekali.
tubuhku tidak mampu lagi menahan,
tidak ada lagi perlawanan.
lalu menggenang hingga semua sel tubuhku
memberat, memberat,

hingga aku tidak lagi mengapung,
hingga air tidak tahu akan meninggi sejauh apalagi.

hingga aku hanyalah kepingan munafik yang berusaha naik-naik setinggi rasa yang tidak lagi jadi kendaliku.

"tolong!"

mungkin kamu tidak akan pernah paham bagaimana rindu ini banjir dan meluber pada tawa-tawa yang harusnya ku nikmati. betapa menatap matamu mengundang marah, betapa jarak kita mengundang rindu--yang tidak tahu di mana harus menetap.

ini adalah
tentang arti puisi
yang mereka pikir
bisa di konversi jadi angka!

Omong Kosong!
Omong Kosong!

Puisi itu privasi!
Puisi itu jiwa yang bebas!
Puisi itu udara yang boleh jadi tanah!
Puisi itu burung yang boleh hidup di air!


--lalu dunia ini hilang,
terpecah jadi kata-kata acak,

terlihatlah tubuhnya yang gagah menginjak...
disorot cahaya bulan yang ogah-ogahan.

habis sudah.
habis sudah.

betapa suaramu adalah hal paling saru hari ini.