/rindu yang entah apa namanya ini/

aku rindu.
pada jiwa yang kian jauh tak terjangkau,
pada hati yang hangat ditengah hujan,
pada mata yang teduh ditengah panas,
pada beribu-ribu detik yang lalu,
serta pada diam yang semakin panjang...

jarak-jarak ini semakin menjauhkan,
                                  menyiksa,
                                  perih.

dan entah,
kali ini,

rindu tidak memaksa bertemu,
namun tabah pada doa yang bertaut
pada heningnya sujud.

padamu,
wahai cinta yang salah waktu.



Ujung Mana Lagi yang Harus Kita Terka?

Semua terasa semakin salah.


Ketidaksengajaan ini jatuh pada waktu yang salah, mungkin.

Atau justru kitalah yang salah.

Ku kira semua ini akan membaik bersama waktu,
nyatanya memburuk, bahkan rentan jatuh.

Nyatanya, di atas sana, 
seseorang sedang berdiri tegak,
hatinya ragu,
tangguh namun rapuh,
menatap harapan yang tak kunjung digelar
dan sempat dibangun oleh asumsi-asumsi.

Semua ini semakin tidak jelas
dimana ujungnya,
bagaimana akhirnya,
dan siapakah kita pada akhirnya?

Kamu terus berjalan
dan memaksaku ikut
menyusuri benang-benang yang tiada akhir,
hingga;
"ujung mana lagi yang harus kita terka, sayang?"



aku merindukanmu setengah mati.

jangan anggap ini berlebihan karena aku benar-benar hampir mati karena merindukanmu. hariku habis oleh angan tentangmu yang ikut jatuh bersama hujan yang menyemai rerumputan, sementara kau begitu kokoh diterpa hujan.

terkadang aku iri dengan langit yang membentang jauh ke atas kepalamu, mampu menyeka rambutmu dengan anginnya. sedangkan aku? duduk disini, mencoba berteduh dari panas dan hujan sekaligus.


membayangkan semua ini tidak pernah terjadi.

Saat itu hujan turun sambil meracau. 
Langit begitu abu. 
Aku rindu.

i want to leave, like really.
hari-hari ini selalu dihantui oleh perasaan ingin pergi.
selalu bisa memulai,
namun pada akhirnya berhenti.

you know i can't.


/ada apa?/

Sejak saat itu, semua tidak lagi sama.
Warnaku memudar,
Kupu-kupu di perutku perlahan mati,
Binar mataku meredup,
Bara apiku memadam.

Ada apa?